Food Cost Ideal untuk Warung Makan
Modal bahan segini, wajar nggak sih? Food cost adalah cara sederhana menjawabnya — dan angka idealnya sering bikin kaget.

Banyak pemilik warung sudah tahu jualannya harus untung, tapi bingung di satu hal: “modal bahan segini, wajar nggak sih?” Nah, ada ukuran sederhana untuk menjawabnya — namanya food cost. Ini persentase modal bahan dibanding harga jual. Sekali paham, Anda bisa langsung tahu menu mana yang sehat dan mana yang diam-diam bikin buntung.
Apa itu food cost?
Food cost adalah berapa persen dari harga jual yang habis untuk bahan. Rumusnya: (modal bahan ÷ harga jual) × 100%. Contoh, nasi ayam geprek dijual Rp 15.000 dan total bahannya (beras, ayam, bumbu, minyak) Rp 9.000, maka food cost-nya 60%.

Berapa food cost yang sehat?
Di sinilah banyak panduan menyesatkan. Angka 30–35% yang sering dikutip berasal dari restoran yang membayar sewa ruko, gaji karyawan, dan pajak — memaksakannya ke warung menghasilkan harga yang tidak akan laku. Dari data warung yang benar-benar berjualan, makanan olahan berjalan di 55–70% dan minuman di 40–50%. Yang perlu diwaspadai bukan lewat 40%, melainkan lewat 80%: di situ untung tinggal seujung kuku, dan sekali harga gas naik menu itu langsung rugi.
| Menu | Harga | Modal bahan | Food cost |
|---|---|---|---|
| Es teh | Rp 3.000 | Rp 1.500 | 50% |
| Nasi goreng | Rp 10.000 | Rp 6.000 | 60% |
| Ayam geprek | Rp 10.000 | Rp 9.000 | 90% |
Es teh 50% — untungnya tebal, khas minuman. Nasi goreng 60% — pas di kisaran yang lazim. Ayam geprek 90% — ini yang perlu diwaspadai: untungnya cuma Rp 1.000 per porsi, habis oleh gas dan plastik. Bukan berarti harus dibuang, tapi harganya perlu ditinjau atau porsinya disesuaikan.
Kalau food cost ketinggian, apa yang bisa dilakukan?
- Naikkan harga sedikit — sering Rp 1.000–2.000 sudah cukup, dan pelanggan jarang protes.
- Cari pemasok lebih murah untuk bahan yang paling banyak dipakai (beras, ayam, minyak).
- Kecilkan porsi bahan termahal secukupnya — tanpa mengurangi kualitas yang terasa pelanggan.
- Kurangi bahan terbuang: belanja sesuai kebutuhan dan simpan dengan benar.
- Buat paket (bundling) supaya menu food cost tinggi “digendong” menu food cost rendah.

Lihat contoh di atas: menurunkan food cost dari 45% ke 33% pada menu Rp 20.000 menambah untung kotor Rp 2.400 per porsi. Kalau menu itu laku 30 porsi sehari, itu Rp 72.000 tambahan tiap hari — lebih dari Rp 2 juta sebulan, tanpa menaikkan harga sepeser pun.
Biar food cost kehitung otomatis
Menghitung food cost tiap menu secara manual itu melelahkan, apalagi kalau harga bahan naik-turun. Aplikasi kasir yang menyimpan modal tiap menu bisa langsung menampilkan persentase food cost dan untung tiap produk — Anda tinggal melihat mana yang sehat dan mana yang perlu ditinjau, tanpa buka kalkulator tiap malam.
Biar untung kehitung sendiri
Kasir Semesta mencatat modal tiap menu, jadi untung per produk dan untung harian muncul otomatis. Gratis, langsung dari HP.
Coba Gratis SekarangBaca juga

Harga Bahan Naik — Ikut Naik atau Tahan?
Harga ayam naik Rp 5.000 sekilo. Perlu naikkan harga menu atau masih aman? Ini cara menghitungnya dalam 2 menit.

Kecilkan Porsi atau Naikkan Harga?
Mengurangi porsi terasa lebih aman daripada menaikkan harga. Padahal pelanggan lebih cepat sadar porsi menyusut daripada harga naik Rp 500.