5 Kesalahan Pemilik Warung Baru
Banyak warung tutup di tahun pertama bukan karena sepi — tapi karena lima kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.

Membuka warung itu mudah; mempertahankannya yang sulit. Kabar baiknya, sebagian besar warung yang tutup di tahun pertama jatuh karena kesalahan yang sama — dan semuanya bisa dihindari kalau tahu dari awal.
1. Mencampur uang usaha dan uang pribadi
Ini yang paling mematikan. Kalau uang warung dipakai untuk kebutuhan rumah tanpa dicatat, Anda tidak akan pernah tahu warungnya sehat atau tidak. Pisahkan sejak hari pertama.
2. Mematok harga tanpa tahu modal asli
Harga yang 'kelihatan untung' sering rugi begitu semua biaya kecil dihitung. Hitung HPP tiap menu dulu, baru tetapkan harga. Ramai tapi rugi adalah jebakan yang nyata.
3. Belanja stok berlebihan di awal
Semangat di awal sering membuat pemilik baru memborong stok. Padahal belum tahu apa yang laku. Uang jadi mati di gudang, dan barang berisiko basi. Mulai secukupnya, tambah sesuai permintaan.
4. Tidak mencatat penjualan
Tanpa catatan, Anda tidak tahu menu mana yang laku, jam mana yang ramai, atau apakah hari ini untung. Anda berdagang dengan mata tertutup. Catat, walau sederhana.
5. Lupa menggaji diri sendiri
Kalau Anda kerja penuh di warung tapi tidak menghitung upah Anda sendiri sebagai biaya, angka 'untung' Anda palsu. Waktu Anda punya nilai — masukkan ke hitungan.
Mulai dari yang paling mudah
Anda tidak perlu membenahi semuanya sekaligus. Mulai dari mencatat setiap penjualan — dari situ, modal, untung, dan menu terbaik pelan-pelan terlihat. Aplikasi kasir gratis membuat langkah pertama ini nyaris tanpa usaha.
Biar untung kehitung sendiri
Kasir Semesta mencatat modal tiap menu, jadi untung per produk dan untung harian muncul otomatis. Gratis, langsung dari HP.
Coba Gratis SekarangBaca juga

Harga Bahan Naik — Ikut Naik atau Tahan?
Harga ayam naik Rp 5.000 sekilo. Perlu naikkan harga menu atau masih aman? Ini cara menghitungnya dalam 2 menit.

Kecilkan Porsi atau Naikkan Harga?
Mengurangi porsi terasa lebih aman daripada menaikkan harga. Padahal pelanggan lebih cepat sadar porsi menyusut daripada harga naik Rp 500.